Minggu, 09 Juni 2013

PENYEBAB KRISIS EKONOMI GLOBAL

Di tengah dinamika ekonomiglobal yang terus-menerus berubahdengan akselerasi yang semakin
tinggi sebagaimana digambarkan diatas, Indonesia mengalami terpaan
badai krisis yang intensitasnya telah sampai pada keadaan yang nyaris menuju kebangkrutan ekonomi.
Krisis ekonomi – yang dipicu oleh
krisis moneter – beberapa waktu yang lalu, paling tidak telah memberikan indikasi yang kuat terhadap tiga hal.
Pertama, kredibilitas
pemerintah telah sampai pada titik
nadir. Penyebab utamanya adalah
karena langkah-langkah yang
ditempuh pemerintah dalam
merenspons krisis selama ini lebih
bersifat “tambal-sulam”, ad-hoc, dan
cenderung menempuh jalan yang
berputar-putar.
Selain itu, seluruh sumber daya yang
dimiliki negeri ini dicurahkan
sepenuhnya untuk menyelamatkan
sektor modern dari titik kehancuran.
Sementara itu, sektor tradisional,
sektor informal, dan ekonomi rakyat,
yang juga memiliki eksistensi di
negeri ini seakan-akan dilupakan
dari wacana penyelamatan
perekonomian yang tengah
menggema.
Kedua, rezim Orde Baru
yang selalu mengedepankan
pertumbuhan (growth) ekonomi
telah menghasilkan crony capitalism
yang telah membuat struktur
perekonomian menjadi sangat rapuh
terhadap gejolak-gejolak eksternal.
Industri manufaktur yang sempat
dibanggakan itu ternyata sangat
bergantung pada bahan baku impor
dan tak memiliki daya tahan.
Sementara itu, akibat “dianak-
tirikan”, sektor pertanian pun juga
tak kunjung mature sebagai
penopang laju industrialisasi. Yang
saat itu terjadi adalah derap
industrialisasi melalui serangkaian
kebijakan yang cenderung
merugikan sektor pertanian.
Akibatnya, sektor pertanian tak
mampu berkembang secara sehat
dalam merespons perubahan pola
konsumsi masyarakat dan
memperkuat competitive advantage
produk-produk ekspor Indonesia.
Salah satu faktor terpenting yang
bisa menjelaskan kecenderungan di
atas adalah karena proses
penyesuaian ekonomi dan politik
(economic and political adjustment)
tidak berlangsung secara mulus dan
alamiah. Soeharto-style state-
assisted capitalism nyata-nyata telah
merusak dan merapuhkan tatanan
perekonomian. Memang di satu sisi
pertumbuhan ekonomi yang telah
dihasilkan cukup tinggi, namun
mengakibatkan ekses yang ujung-
ujungnya justru counter productive
bagi pertumbuhan yang
berkelanjutan.
Ketiga, rezim yang sangat
korup telah membuat sendi-sendi
perekonomian mengalami
kerapuhan. Secara umum, segala
bentuk korupsi akan mengakibatkan
arah alokasi sumber daya
perekonomian menjurus pada
kegiatan-kegiatan yang tidak
produktif dan tidak memberikan
hasil optimum. Dalam kondisi seperti
ini pertumbuhan ekonomi memang
sangat mungkin terus berlangsung,
bahkan pada intensitas yang relatif
tinggi. Namun demikian, sampai
pada batas tertentu pasti akan
mengakibatkan melemahnya basis
pertumbuhan.
Selanjutnya, praktik-praktik korupsi
secara perlahan C tapi pasti C telah
merusak tatanan ekonomi dan
pembusukan politik yang disebabkan
oleh perilaku penguasa, elit politik,
dan jajaran birokrasi. Keadaan
semakin parah ketika jajaran
angkatan bersenjata dan aparat
penegak hukum pun ternyata juga
turut terseret ke dalam jaringan
praktik-praktik korupsi itu.
Hancurnya kredibilitas pemerintah
yang dibarengi dengan tingginya
ketidakpastian itu telah
menyebabkan terkikisnya
kepercayaan (trust). Yang terjadi
dewasa ini tidak hanya sekadar
pudarnya trust masyarakat terhadap
pemerintah dan sebaliknya,
melainkan juga antara pihak luar
negeri dengan pemerintah, serta di
antara sesama kelompok
masyarakat. Yang terakhir
disebutkan itu tercermin dengan
sangat jelas dari keberingasan massa
terhadap simbol-simbol kekuasaan
serta kemewahan dan terhadap
kelompok etnis Cina, seperti yang
dikenal dengan peristiwa Mei 1998.
Sementara itu, krisis
kepercayaan masyarakat terhadap
pemerintah dapat dilihat dari
respons masyarakat yang kerap kali
berlawanan dengan tujuan kebijakan
yang ditempuh pemerintah.
Misalnya, kebijakan pemerintah
yang seharusnya berupaya
menggiring ekspektasi masyarakat
ke arah kanan, justru telah
menimbulkan respons masyarakat
menuju ke arah kiri, dan sebaliknya.
Faktor lainnya adalah semakin
timpangnya distribusi pendapatan
dan kekayaan, sehingga
mengakibatkan lunturnya solidaritas
sosial.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar